▶
Public Lecture – Weaponized Energy: Navigating National Survival Amidst Global Supply Disruptions
Perubahan kondisi geopolitik global memberikan pengaruh yang besar terhadap kerentanan pasokan energi Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia masih bergantung dengan energi fosil hingga saat ini. Pada tahun 2025, bauran konsumsi energi Indonesia masih didominasi oleh batu bara sebesar 42%, diikuti oleh minyak mentah sebesar 27%, gas alam sebesar 15%, dan energi terbarukan sebesar 16%. Tingginya dominasi energi fosil tersebut, khususnya minyak dan gas, memiliki implikasi pada meningkatnya eksposur Indonesia terhadap fluktuasi harga energi global dan potensi gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik global. Di samping itu, ketergantungan terhadap impor energi fosil akan memperbesar risiko ketahanan energi nasional ketika terjadi permasalahan pada rantai pasok global, khususnya pada ruang fiskal negara akibat subsidi energi.
IESR mencatat bahwa setiap kenaikan 1 USD/barel ICP akan berdampak pada peningkatan defisit APBN neto sebesar 6,8 triliun rupiah. Di samping itu, dari penelitian LPEM UI juga menambahkan bahwa setiap peningkatan pada harga komoditas energi global sebesar 10% akan memicu inflasi pada produk-produk yang menggunakan komoditas fosil sebagai bahan baku, masing-masing sebesar 0,54%; 0,61% dan 0,34% brent oil, batu bara, dan gas. Analisa IESR dan LPEM UI mencatatkan hal yang sama bahwa jika dampak krisis energi saat ini terus berlanjut, dimana harga ICP tembus hingga 100 USD/barel selama 3 bulan dan nilai tukar rupiah melemah hingga lebih dari 17.000 rupiah/dolar, maka defisit fiskal akan terdorong ke angka 3,5-4% dari PDB yang tentunya hal ini sudah melanggar ketentuan UU (3% dari PDB).
Berkaca pada krisis energi 2022 dan sekarang ini, ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil harus secara bertahap dikurangi dan bertransisi ke energi terbarukan. Ruang fiskal yang sempit akibat beban subsidi dan kompensasi energi yang volatile akan sangat menyulitkan Indonesia untuk bisa menarik investor dan menciptakan aktivitas ekonomi baru guna mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicita-citakan Presiden Prabowo. Oleh karena itu, krisis energi yang melanda dunia internasional saat ini adalah momentum bagi Indonesia untuk serius merencanakan dan mengesekusi agenda transisi energi. Beberapa negara di Eropa, seperti Spanyol, tidak secara signifikan terdampak krisis energi akibat ketegangan di Timur Tengah saat ini karena share energi terbarukan dari surya dan angin yang sudah dominan. Bahkan, untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah Spanyol menyediakan bantuan sekitar 5 miliar euro (carbonbrief. 2026)
Meskipun demikian, saat ini masih terdapat berbagai tantangan dalam memperkuat ketahanan energi nasional ditengah dinamika geopolitik global. Salah satunya yaitu masih terbatasnya pemahaman baik dikalangan akademisi maupun masyarakat umum mengenai keterkaitan dinamika geopolitik global dengan ketahanan energi nasional. Selain karena kurangnya ruang diskusi kolaboratif yang mampu melibatkan berbagai pihak dalam menyusun solusi, permasalahan krisis global ini juga melibatkan beberapa aspek kebijakan, tekonologi, dan ekonomi global sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam membuat solusi yang adaptif.
Berkaca pada keberhasilan Spanyol mengatasi krisis energi global, dan mempertimbangkan 8 langkah antisipasi krisis energi yang telah dikeluarkan pemerintah Indonesia dalam beberapa waktu ini, IESR memandang saat ini menjadi momentum penting untuk mendorong dan memperkuat kembali komitmen dalam transisi energi. Oleh karena itu, dalam rangka menciptakan ruang diskusi kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak dalam menyusun solusi untuk mengatasi masalah krisis energi global ini, IESR akan menyelenggarakan kegiatan public lecture yang berfokus pada pembahasan ketahanan energi nasional dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah diskusi melalui kehadiran para ahli, akademisi, masyarakat yang berkompeten di bidang energi dan geopolitik. Kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan perspektif yang komprehensif, inklusif dan, berbasis pengetahuan tentang urgensi bertransisi energi untuk menjaga ketahanan energi nasional. Public lecture ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperkaya pengetahuan, dan memperkuat kapasitas masyarakat umum dalam merespon berbagai potensi dinamika energi di masa depan.
